Wednesday, October 8, 2008

Buleleng Bali Regency

Wilayah Bali utara hampir seluruhnya ditetapkan bernaung di bawah pemerintahan Kabupaten Buleleng. Dengan begitu, Buleleng adalah kabupaten yang terluas wilayahnya di antara kabupaten lain di Bali. Batas pegunungan yang membujur timur-barat sepanjang pertengahan Bali termasuk ke dalam wilayah Buleleng. Karenanya, Buleleng adalah wilayah yang lengkap memiliki gunung, daratan, dan laut utara Pulau Bali. Kendati memiliki wilayah yang terluas di Bali, sebagian wilayah BUleleng adalah daerah kering terutama di daerah pegunungan Buleleng barat dan Buleleng Timur.
Konsisi alam yang dimiliki Buleleng membuat Buleleng tak bisa mengandalkan pertanian tanah basah. Namun keadaan ini justru membawa Buleleng sebagai daerah perkebunan penghasil buah-buahan seperti jeruk, cengkeh, dan kopi di daerah pegunungan, sedangkan sepanjang daerah pesisir adalah penghasil buah anggur dan tembakau.
Sebagaimana dengan daerah-daerah Bali selatan, Buleleng pun menyimpan peran masa lalu saat masa perkembangan ekspedisi Palapa Wira Gajah Mada merangkul Bali. Desa-desa kuna Sembiran, Julah, dan desa lain di sekitarnya membuktikan bahwa wilayah Bali utara tak luput mewarnai perjalanan sejarah Bali. Kekuasaan Ki Gusti Panji Sakti bahkan sempat merambah daerah Jawa Timur. Berbagai pura di sepanjang Bali utara, mulai dari Pura Payogan Prapat agung, Pura Pulaki, Pura Ponjok Batu, hingga ke Pura Candi Gora menunjukkan bahwa Bali utara adalah bagian penting dari perjalanan dharma para bijak masa lalu.
Saat masa penjajahan Belanda, wilayah Buleleng bahkan dipandang sebagai daerah strategis oleh Belanda untuk memulai pergerakan menguasai Bali. Wilayah delapan kerajaan di Bali, termasuk Buleleng, yang sudah terikat dalam kesepakatan Paswara Asta Negara digoyahkan oleh Belanda justru dari kekuatan Bali utara di daerah Buleleng. Tahun 1846 Buleleng dijatuhkan dalam pertempuran sengit yang dikenal sebagai Perang Buleleng. Tekanan Belanda terus dilakukan menyusul Perang Jagaraga pada tahun 1849 yang memastikan Buleleng sepenuhnya dikuasai Kompeni.
Perjalanan Bali dari masa ke masa hingga era millenium ke tiga ini telah membawa pula imbas ke wilayah Buleleng untuk turut berkiprah dalam dunia pariwisata. Daerah pesisir sepanjang Bali utara, terutama kawasan Lovina dan Kalibukbuk, adalah potensi daerah hunian wisata yang dimiliki oleh Buleleng. Secara keseluruhan, berbagai warisan seni budaya Buleleng memiliki ciri khas yang agak berbeda dengan warna seni budaya daerah Bali Selatan.


Air Panas Banyuwedang (Banyuwedang Hot Spring)

Air Panas Banyuwedang bersumber dari mata air panas yang muncul di pantai. Air panas ini berada di bawah air pada waktu air pasang. Merupakan sumber air panas terbesar, bangunan beton pengaman dibuatkan dalam bentuk lingkaran yang berfungsi sebagai tanggul, sehingga pada saat air pasang air panas tersebut tidak bercampur dengan air laut. Air panas ini banyak mengandung belerang dengan rata-rata suhu 40 derajat celcius.
Karena kandungan belerangnya yang cukup tinggi, air panas ini dipercayai secara meluas bahkan sampai ke pulau Jawa karena air panas ini dapat menyembuhkan beberapa penyakit terutama penyakit kulit. Tidak mengherankan apabila banyak orang-orang yang datang ke tempat ini dengan harapan penyakitnya dapat sembuh. Pantai dimana terdapat sumber air panas ini ditumbuhi tanaman bakau yang mencegah abrasi pantai. Dapat dikatakan pantai Bayuwedang ini bebas dari abrasi.
Adanya teluk dan beberapa pasir putih di sekitarnya menambah asset pariwisata di sekitar Banyuwedang ini. Air Panas Banyuwedang terletak di Desa Pejarakan Kecamatan Gerokgak 60 km dari kota Singaraja, dipinggir batas kawasan Taman Nasional Bali Barat. Di sebelah selatan jalan raya ke Air Panas Banyuwedang termasuk kawasan Taman Nasional, sedangkan di sebelah utaranya adalah kawasan Batu Ampar yang terdiri dari tanah berkapur. Kawasan Batu Ampar ini oleh daerah tingkat II Buleleng telah direncanakan sebagai kawasan wisata baru, mengingat adanya potensi daya tarik yang besar, diantaranya adalah adanya Taman Laut di sekitar Pulau Menjangan. Jalan menuju air panas Banyuwedang dari jalan raya jurusan Singaraja-Gilimanuk telah dikeraskan, demikian pula telah dibangun fasilitas parkir. Di sumber air panas yang ditanggul dibangun sebuah bangunan dengan beberapa kamar mandi tertutup. Di areal Air Panas Banyuwedang terdapat juga beberapa fasilitas WC yang dibangun oleh Taman Nasional Bali Barat, dan beberapa tempat berteduh. Jumlah kunjungan wisatawan Nusantara tinggi jika dibandingkan dengan Mancanegara. Pengunjung yang datang kebanyakan dengan tujuan untuk berobat. Pengunjung yang dari pulau Jawa kebanyakan berasal dari Daerah Banyuwangi.
Sesungguhnya sumber air panas Banyuwedang terletak ditengah-tengah hutan bakau di pinggir pantai. Daerah sekitarnya relatif gersang karena tanahnya terdiri atas tanah kapur dan tidak terdapatnya sungai yang dapat menjadikan sumber air untuk penghijauan sekitarnya. Oleh karenanya tanaman yang banyak tumbuh adalah tanaman yang tidak banyak membutuhkan air, seperti yang dikenal di Bali sebagai pohon bekeul atau bangyang. Adanya air panas yang mengandung belerang yang terletak di pinggir pantai ditunjang dengan daerah yang jarang penduduknya sehingga dapat diciptakan suasana tenang, menyebabkan Pemerintah Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Bali akan mengembangkan daerah ini sebagai Kawasan Pariwisata Untuk Kesehatan, atau yang umum disebut Health Tourism.


Air Terjun Singsing (Singsing Waterfall)

Pada waktu musim panas, volume air terjun relatif menurun. Jalan menuju air terjun yang sedikit mendaki merupakan kegiatan yang menyenangkan untuk kegiatan trekking. Letaknya yang tidak jauh dari kawasan Lovina, bahkan dapat dicapai dengan jalan kaki dari Lovina, menjadikan obyek ini banyak dikunjungi wisatawan yang umumnya mereka yang tinggal di kawasan Wisata Lovina. Tidak jauh dari air terjun Singsing ini, terdapat monumen Belanda. Monumen ini dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk memperingati gugurnya seorang Perwira tentara Belanda didalam perang Banjar pada tahun 1868. Sekitar tahun 1956 monumen ini dihancurkan karena dianggap menghormati penjajah. Akan tetapi pada tahun 1992 monumen ini dibangun kembali oleh Pemda Kabupaten Dati II Buleleng dengan maksud bahwa sejarah tidak bisa dihapus, disamping monumen itu juga melambangkan kepahlawanan rakyat Banjar yang mampu menewaskan perwira tentara Belanda. Air Terjun Singsing terletak di Banjar Labuhan Haji Desa Temukus Kecamatan Banjar, 3 km dari Lovina dan 13 km dari Singaraja. Untuk menuju obyek wisata ini dapat dicapai dengan kendaraan bermotor sampai ke jurusan desa Tigawarsa. Sebuah tanda penunjuk arah menunjukkan jalan yang harus diikuti dengan berjalan kaki (sepanjang lebih kurang 600 meter) untuk sampai kepada air terjun yang pertama. Untuk mencapai air terjun kedua yang letaknya lebih tinggi harus melalui jalan yang terjal. Fasilitas parkir dibangun dan diusahakan oleh banjar setempat, dan warung disekitar kawasan inipun telah tersedia. Wisatawan baik Nusantara maupun mancanegara banyak mengunjungi air terjun ini karena suasananya yang tenang, damai dan cocok untuk kesegaran jasmani. Lokasi Air Terjun di daerah perbukitan, yang memberikan pemandangan hamparan pantai Lovina di arah Utara, menjadi daya tarik yang cukup memikat bagi para wisatawan.


Brahmavihara-Arama

Brahmavihara-Arama, yang lebih dikenal dengan nama Wihara Buddha Banjar, merupakan Vihara Buddha terbesar di Bali. Letaknya di daerah perbukitan di Desa Banjar Tegeha Kecamatan Banjar, 22 km sebelah Barat Singaraja dan 11 km dari kawasan wisata Lovina . Dengan suasananya yang sepi dan tenang serta dapat memandang langsung ke pantai Lovina sebagai kawasan wisata di Buleleng, menyebabkan Vihara Buddha ini menjadi daya tarik yang kuat bagi wisatawan, baik mancanegara maupun nusantara.
Secara garis besar Vihara ini terdiri atas 5 kompleks penting, yaitu:

  1. Uposatha Gara
    Terletak di puncak sebelah Barat, sebuah ruangan yang nyaman dan tenang. Pada dinding-dindingnya terpahat panel kelahiran Sang Buddha, dan di tengah-tengah terdapat patung Sang Buddha dalam keadaan mencapai Sama Sang Buddha (Nirwana). Ruangan ini fungsinya untuk penasbihan para bhiku samanera (calon bhiku), tahap awal untuk mengikuti latihan tahap berikutnya.
  2. Dharmasala
    Semacam ruang kuliah terletak di sebelah timur. Di tempat ini para bhiku melakukan kebaktian, memberi khotbah-khotbah, dan juga tempat ini dimanfaatkan sebagai tempat untuk melakukan segala aktivitas spiritual.
  3. Stupa
    Sebuah bangunan yang bentuknya menyerupai lonceng raksasa yang terletak di sudut Barat Laut, yang seluruh sisi-sisinya terbuat dari beton dengan relief yang sangat mengagumkan.
  4. Pohon Bodi
    Di sudut barat daya bangunan terdapat pohon besar yang disebut pohon bodi, yang di sekitar pohon tersebut dihias dengan relief. Tempat ini merupakan simbul kemenangan Sang Buddha pada waktu beliau mencapai Sammia Sang Buddha (kesempurnaan yang abadi).
  5. Kuti
    Kuti ini merupakan tempat tinggal para bhiku maupun para siswa yang sedang menuntut ilmu dan kadang kala tempat ini juga dipergunakan sebagai tempat latihan para bhiku.

Di komplek Vihara terdapat beberapa patung Buddha yang menghiasi setiap sudut taman maupun ruangan. Diantaranya terdapat dua buah patung Budha yang sangat menarik yaitu patung Parinirwana dan patung Buddha sebagai Sang Buddha sedang mencapai sama atau moksa dalam istilah agama Hindu.


Danau Buyan dan Tamblingan (Buyan and Tamblingan Lake)

Danau Buyan dan Danau Tamblingan seolah danau kembar yang memiliki daya tarik yang sangat mempesona. Keaslian alam di kedua danau ini masih sangat dirasakan, misalnya dengan tidak adanya penggunaan perahu bermotor di kedua danau ini. Masyarakat setempat menggunakan perahu-perahu kecil yang disebut pedahu untuk memancing. Dengan udara yang sejuk dikelilingi pegunungan yang serba hijau, suasana udara yang segar memberikan suasana yang tenang dan nyaman. Danau ini sangat ideal untuk rekreasi air seperti mendayung dan memancing. Bagi mereka yang menyenangi alam dan rekreasi, kedua danau inilah tempatnya. Adanya kera-kera yang tidak jauh dari kedua danau ini, yaitu di jalan raya sebelah danau Buyan jurusan Denpasar-Singaraja, yang semakin hari semakin banyak jumlahnya, menambah daya tarik kawasan ini sebagai obyek wisata.
Danau Buyan dan Danau Tamblingan berlokasi di Kecamatan Sukasada, 21 km sebelah Selatan Kota Singaraja, terletak di pinggir jalan Denpasar-Singaraja. Letaknya yang cukup tinggi yaitu kurang lebih 1000 m dari permukaan laut menyebabkan udaranya agak sejuk dan dingin pada malam hari. Sedangkan Danau Tamblingan dapat dicapai melalui pertigaan ke arah Desa Munduk, desa Gobleg dan tembus di Lovina. Sepanjang jalan ke danau ini dapat dilihat pemandangannya secara utuh. Dari Desa Munduk dapat dicapai danau melalui jalan swadaya masyarakat. Mobil dapat mencapai pinggir danau yang masih asri, dengan kawasan hutannya yang belum tersentuh. Fasilitas yang tersedia adalah tempat parkir untuk mobil tepi danau, penyewaan perahu untuk keperluan memancing ataupun sekedar berekreasi, dan fasilitas akomodasi. Dari pengamatan secara umum, kebanyakan wisatawan yang datang ke tempat ini adalah wisatawan mancanegara yang independent, mereka membawa kendaraan sendiri. Setiap saat danau ini ramai dikunjungi wisatawan mancanegara maupun wisatawan Nusantara.


Lingkungan Pura Agung Jagatnatha (Jagatnatha Temple)

Kendatipun lingkungan Pura Agung Jagatnatha ini relatif baru, akan tetapi karena berdiri megah ditengah–tengah kota, lingkungan Pura ini cepat menarik wisatawan. Di saat odalan dan waktu bulan Purnama serta bulan mati (Tilem) bisa disaksikan umat Hindu termasuk anak-anak sekolah datang ke lingkungan Pura ini untuk bersembahyang dengan destar putih, baju putih dan selendang (saput) kuning untuk kaum pria, sedangkan kaum wanita menggunakan baju kuning atau putih dan selendang kuning atau putih. Pemandangan seperti ini sangat menarik karena ditengah hiruk pikuknya kehidupan kota, umat Hindu tidak pernah melupakan kewajibannya untuk bersembahyang.Suasana kota, lalu lintas, kebisingan, tidak mengurangi kekhusukan umat Hindu di dalam melakukan persembahyangan. Candi Bentar, Padmasana yang menjulang tinggi seakan-akan bersaing dengan menara Telkom yang juga menjulang tinggi sebagai lambang kemajuan teknologi di abad saat ini, tidak mengurangi keagungan Padmasana sebagai Singgasana Ida Sang Hyang Widhi Wasa.


Lingkungan Pura Beji (Beji Temple)

Lingkungan Pura Beji merupakan sebuah lingkungan Pura untuk memuja Dewi Sri, sebagai Dewi yang dikaitkan dengan pertanian khususnya dipercayai sebagai Dewi yang menciptakan padi sebagai bahan makanan pokok. Lingkungan Pura ini juga dikenal sebagai lingkungan Pura Subak untuk Desa Adat Sangsit, dimana seluruh bagian lingkungan Raja dihiasi ukiran style Buleleng dalam bentuk tumbuh-tumbuhan yang merambat dan motif bunga yang mencirikan abad ke 15, jaman Raja Majapahit.Pada pintu gerbang lingkungan pura dihiasi dua ekor naga sebagai penjaga Pura. Daya tarik yang unik dari lingkungan pura ini adalah ukiran yang memenuhi semua bagian pura seakan-akan tidak satu tempat pura yang tidak dihiasi dengan ukiran. Ukiran ini dicat warna-warni sehingga lingkungan pura ini menjadi lebih unik lagi.Lingkungan Pura ini berlokasi di Desa Sangsit, Kecamatan Sawan Kabupaten Daerah Tingkat II Buleleng.


Lingkungan Pura Dalem Jagaraga (Jagaraga Temple)

Lingkungan Pura Dalem Jagaraga, sebagai salah satu dari lingkungan Pura Kahyangan Tiga Adat Jagaraga, secara umum memiliki pola yang sama dengan lingkungan Pura Dalem lainnya di Bali yaitu lokasinya dekat kuburan, hiasan patung-patung yang berwajah seram dan menakutkan, antara lain patung Betara Durga. Lingkungan Pura Dalem ini memiliki keunikan tersendiri yaitu pahatan relief di tembok depan bagian luar lingkungan pura ini, yang melukiskan pertempuran pesawat udara model kuno di udara (dog fight), perampokan bersenjata, perahu, orang sedang minum bir, mobil model kuno. Keunikan-keunikan seperti inilah yang membuat pura ini terkenal dan banyak dipromosikan oleh para penulis buku panduan wisatawan (guide book).
Lokasi Lingkungan Pura Dalem Jagaraga terletak di Desa Jagaraga, 11 km sebelah Timur Singaraja dipinggir jalan jurusan Singaraja Sawan. Desa Jagaraga juga terkenal dengan Puputan Jagaraga-nya dan sekaa Gong Kebyarnya dimana seniman almarhum Gde Manik berasal dari Desa ini.


Lingkungan Pura Madwe Karang (Madwe Karang Temple)

Lingkungan Pura Maduwe Karang adalah salah satu lingkungan Pura di Bali yang telah dikenal wisatawan mancanegara sebelum Perang Dunia Kedua. Di Jaman itu wisatawan mancanegara datang ke Bali melalui laut di Pelabuhan Buleleng. Di tempat ini sambil menunggu angkutan umum para wisatawan mempergunakan waktu untuk mengunjungi Lingkungan Pura Beji di Desa Sangsit, Lingkungan Pura Maduwe Karang di Desa Kubutambahan.Lingkungan Pura ini terdiri dari tiga tingkat yaitu Jaba Pura di luar lingkungan pura atau Jabaan, Jaba Tengah, dan Jeroan, bagian paling dalam adalah yang paling disucikan. Dua buah tangga batu menanjak menuju Jaba Pura, yang di bagian depannya dihiasi patung-patung batu padas, tiga puluh empat jumlahnya, yang diambil dari tokoh-tokoh dan adegan-adegan ceritera Ramayana.
Patung yang berdiri di tengah-tengah memperlihatkan Kumbakarna yang sedang berkelahi dan dikeroyok oleh kera-kera laskar Sang Sugriwa. Yang unik, pada bagian dinding di sebelah utara terdapat ukiran relief orang naik sepeda yang roda belakangnya terdapat daun bunga tunjung. Daya tarik lain adalah pahatan Durga dalam manifestasinya sebagai Rangda, dalam posisi duduk dengan kedua lututnya terbuka lebar sehingga alat kelaminnya jelas kelihatan. Tangan kanannya diletakkan di atas kepala seorang anak kecil yang berdiri di sebelah lututnya, kaki kanannya diletakkan di atas binatang bertanduk yang sedang berbaring. Pada bagian lain dari dinding lingkungan pura ini terdapat pahatan seorang penunggang kuda terbang dan pahatan Astimuka. Tokoh ini dilukiskan sama dengan Sang Hyang Gana (Ganesha), yakni dewa dengan muka gajah. Kungkungan Pura Maduwe Karang ini terletak di Desa Kubutambahan, 12 km sebelah Timur Singaraja.


Lingkungan Pura Ponjok Batu (Ponjok Batu Temple)

Lingkungan Pura Ponjok Batu merupakan sebuah tanjung yang terdiri atas bebatuan dimana dari celah–celah batu tersebut tumbuh pohon Kamboja dan semak yang sangat indah. Dalam bahasa Bali Ponjok Batu berarti Tanjung Batu. Lingkungan Pura ini merupakan lingkungan Pura tempat pemujaan/tempat persembahyangan umum untuk mohon keselamatan.Dari depan lingkungan pura yang dibatasi jalan raya menuju Amlapura terlihat pemandangan Laut Jawa yang terbentang luas, yang dapat menimbulkan ketenangan jiwa dan menumbuhkan inspirasi bagi pengunjungnya. Laut yang tenang yang ditumbuhi beberapa pohon tua di sekitar bukit menambah keindahan lokasi lingkungan Pura. Beberapa sumber air bertebaran di sekitar lokasi, dan penduduk setempat memanfaatkannya untuk keperluan sehari-hari. Lingkungan Pura ini terletak lebih kurang 24 km di sebelah Timur Singaraja, terletak di pinggir pantai dan di atas sebuah ketinggian, termasuk wilayah Desa Pacung Kecamatan Tejakula. Disamping karena keindahan alam, arsitektur lingkungan Pura juga mencerminkan gaya khas yaitu seluruh bangunan terbuat dari susunan batu batu alam yang terdapat di sekitar lokasi sangat menarik wisatawan.


Lingkungan Pura Pulaki (Pulaki Temple)

Lingkungan Pura Pulaki dibangun di atas tebing berbatu dan langsung menghadap ke laut. Lingkungan Pura ini kelihatan sangat agung dan sesuai dengan namanya yaitu Lingkungan Pura Agung Pulaki. Daya tarik Lingkungan Pura ini yang menonjol adalah lokasi dan lingkungan Pura. Bukit terjal yang berbatu dan kering serta laut membentang di depannya dan bukit tidak jauh di sebelah Baratnya yang berbentuk tanjung kecil memberikan suasana yang sangat menarik.Kera-kera yang hidup di sekitar pura ini, sering berkumpul di halaman pura karena adanya makanan yang diberikan oleh para pengunjung, menambah daya tarik lingkungan pura ini. Lingkungan Pura Pulaki terletak di desa Banyupoh Kecamatan Gerokgak, 53 km sebelah Barat Singaraja. Lingkungan Pura Pulaki itu sesungguhnya merupakan satu kompleks yang terdiri dari lingkungan Pura Agung Pulaki dengan beberapa Pesanakannya yaitu lingkungan Pura Melanting, lingkungan Pura Kertha Kawat, lingkungan Pura Pabean dan lingkungan Pura Pemuteran. Lingkungan Pura Melanting ada kaitannya dengan kemakmuran, khususnya yang beraspek perdagangan, sehingga lingkungan Pura Melanting banyak dikunjungi oleh para pengusaha, pedagang, untuk bersembahyang dan membawa aturan. Di Lingkungan Pura Pemuteran, terdapat air panas yang banyak dikunjungi baik oleh penduduk lokal maupun wisatawan.


Lingkungan Pura Dalem Sangsit (Sangsit Temple)

Daya tarik yang menonjol dari lingkungan pura ini adalah relief pada tembok luar pura yang menggambarkan ceritera Bima Swarga, yang pada pokoknya menggambarkan adanya hukuman imbalan yang diterima setiap orang setelah yang bersangkutan meninggal sesuai dengan perbuatannya. Misalnya hukuman yang harus diterima oleh seorang yang melakukan perbuatan zinah di saat hidupnya. Relief ini juga mengandung makna filosofis tentang hak dan kewajiban umat Hindu. Misalnya digambarkan seorang wanita yang harus menyusui seekor ulat raksasa karena tidak mampu memberikan keturunan.Relief ini karena umurnya dibeberapa bagian telah mulai kabur namun di beberapa bagian masih nampak jelas. Adapun patung patung yang berwajah seram sebagaimana umumnya terdapat pada setiap lingkungan Pura Dalem yang ada kaitannya dengan kematian, memberikan suasana seram dan menakutkan, menambah juga daya tarik lingkungan Pura ini bagi wisatawan. Lingkungan Pura Dalem ini terletak di Desa Sangsit 8 km sebelah Timur Singaraja.


Pantai Lovina (Lovina Beach)

Kawasan Wisata Lovina ini merupakan kawasan wisata pantai dengan daya tarik utamanya pantai dengan air laut yang tenang, pasir berwarna kehitam-hitaman, dan karang laut dengan ikan-ikan tropisnya. Karena sifat lautnya yang tenang, Lovina ini sangat cocok untuk rekreasi air seperti menyelam, snorkling, berenang, memancing, berlayar, mendayung dan sekedar berendam di air laut. Disamping daya tarik tersebut di atas, dapat dicatat disini adanya ikan lumba-lumba dalam habitat aslinya. Ikan lumba-lumba yang jumlahnya ratusan ini dapat dilihat di pagi hari, kurang lebih satu kilometer lepas pantai. Ikan lumba-lumba yang menyelam, melompat di atas permukaan air dengan pemandangan untaian gunung di sebelah selatannya, langit kemerah-merahan pertanda terbitnya matahari, merupakan suatu pemandangan yang memberi daya tarik yang sangat memikat.
Kawasan Lovina ini juga ditunjang oleh banyak daya tarik wisata di sekitarnya yang mudah dicapai. Daya tarik pariwisata di sekitar Lovina antara lain : Air Panas Banjar, Wihara Budaha, Air Terjun Gitgit, dan desa-desa sekitarnya yang sangat ideal untuk mereka yang mencintai alam (ecotourism).
Secara resmi, kawasan ini disebut Wisata Kalibukbuk, namun lebih dikenal dengan sebutan Kawasan Wisata Lovina. Kawasan ini meliputi 2 kecamatan, yaitu Desa Pemaron, Desa Tukadmungga, Desa Anturan dan Desa Kalibukbuk masuk Kecamatan Buleleng sedangkan Desa Kaliasem dan Desa Temukus masuk Kecamatan Banjar. Kedua-duanya terletak di kabupaten Daerah Tingkat II Buleleng. Desa yang terletak paling Timur yaitu Desa Pemaron (5 km Barat Singaraja) dan desa paling Barat yaitu Desa Temukus (12 km Barat Singaraja). Pusat kawasan wisata Lovina terletak 10 km dari kota Singaraja. Kawasan wisata Lovina sementara ini menjadi pusat fasilitas kepariwisataan di Kabupaten Daerah Tingkat II Buleleng. Terdapat berbagai macam akomodasi, baik hotel berbintang, hotel melati, pondok wisata maupun homestay, rumah makan, toko cendramata, angkutan, pelayanan pertukaran uang (money changer), pelayanan informasi pariwisata (tourist information service), telpon (Wartel) dan lain-lainnya. Sebagai kawasan wisata dan pusat fasilitas pariwisata di Buleleng, Lovina mendapat kunjungan yang terbesar dari wisatawan yang datang ke Buleleng. Berdasarkan hasil survey pariwisata tahun 1992, dari jumlah wisatawan yang menginap di Buleleng, 90 % menginap di Lovina.
Lovina diberi nama oleh Almarhum Anak Agung Panji Tisna. Konon nama Lovina diambil dari nama hotel kecil di India yaitu Lafeina dimana beliau menginap dan menulis buku dengan judul Ni Ketut Widhi (yang kemudian buku ini diterjemahkkan kedalam beberapa bahasa dan untuk mengenang almarhum). Ada juga versi lain Lovina ini diambil dari adanya dua pohon santen yang ditanam oleh putra beliau yang kemudian tumbuh saling berpelukan. Jadi Lovina berasal dari bahasa latin dengan arti saling mengasihi atau saling menyayangi. Kemudian oleh Bupati Kepala Daerah tingkat II Buleleng, Drs. I Ketut Ginantra selama masa jabatannya dari tahun 1988 sampai 1993, Lovina diartikan sebagai singkatan dari Love dan Ina artinya Cinta Indonesia.


Tugu Singa Ambara Raja (Singa Ambara Raja Statue)

Singa Ambara Raja merupakan lambang Kabupaten Daerah Tingkat II Buleleng, berupa singa bersayap dengan salah satu kaki depannya memegang jagung gembal. Lambang ini kemudian dibangun dalam bentuk tugu di depan Kantor Bupati Buleleng dengan beton bertulang. Tugu ini selanjutnya menjadi Landmark kota Singaraja karena bentuknya yang unik, dalam pengertian tidak ada duanya di dunia ini. Lokasinya yang berada di perempatan jalan yang sering dilalui wisatawan, menyebabkan tugu ini telah menjadi daya tarik yang cukup besar untuk daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Buleleng.Lokasi Tugu Singa Ambara Raja adalah di depan Kantor Bupati Kepala Daerah Tingkat II Buleleng, di pertigaan jalan Veteran, Jalan Pahlawan dan Jalan Ngurah Rai. Wisatawan yang melewati route ini kebanyakan berhenti mengambil foto-foto tugu tersebut atau berfoto di depat tugu, dengan tujuan untuk membuktikan bahwa yang bersangkutan memang benar pernah ke Singaraja atau sebagai kenang-kenangan kota Singaraja. Mengingat wisatawan yang melewati route ini hanya menggunakan kesempatan untuk mengambil foto-foto di sekitar tugu, maka tidak dibangun fasilitas khusus untuk wisatawan.

Kota Denpasar

Kota Denpasar adalah wilayah kota termuda di Bali, berusia 13 tahun sejak diresmikan tanggal 27 Februari 1992. Penetapan Denpasar sebagai pemerintahan kota dijalani secara bertahap melalui peningkatan status Kota Administratif dan Kotamadya. Kendati demikian, dari sisi sejarah, Denpasar yang sebelumnya adalah bagian dari Kabupaten Badung menyimpan peran amat penting bagi perjalanan Bali kini. Perang Puputan Badung tanggal 20 September 1906, yang melibatkan banyak kalangan, bukan saja kalangan keluarga Puri, menunjukkan kegigihan warga Bali dalam mempertahankan kehormatan.
Mewilayahi sekitar 12.780 ha Denpasar mulanya adalah pusat kota kerajaan kian pasti bergerak menjadi kota dagang. Menerima warisan dari Kabupaten Badung sebagai daerah hunian wisata, Denpasar mewilayahi daerah hunian wisata utama di kawasan Sanur. Dari sisi utara Sanur dengan The Grand Bali Beach hingga Sanur Beach Hotel di sisi selatan Sanur dipadati oleh hotel, restoran, dan berbagai sarana penunjang wisata yang padat.
Menyikapi agar perkembangan Denpasar tidak liar tanpa kendali, memasuki milenium ketiga, Pemerintah Kota Denpasar menetapkan rambu Denpasar sebagai Kota Budaya. Beberapa kawasan kota seperti misalnya kawasan Lapangan Puputan, daerah aliran sungai Tukad Badung, dan beberapa kawasan terkait ditata untuk lebih pantas menyandang ciri sebagai kota budaya. Paket City Tour pun dikemas sebagai rambu pendukung untuk menjaga kualitas ruang-ruang tersebut.


Bali Art Centre (Taman Budaya)

Taman Werdhi Budaya yang terletak di Jalan Nusa Indah Denpasar merupakan salah satu tempat terluas dan paling komplek untuk pergelaran budaya di Bali dimana setiap tahunnya Pesta Kesenia Bali dilaksanakan di tempat ini. Dirancang oleh arsitektur termuka Bali yakni Ida Bagus Tugur, tempat ini dirancang berdasarkan arsitektur pura dan arsitektur Istana Kerajaan di Bali.
Pada pokoknya kawasan Taman Budaya yang dibelah sebuah sungai dari timur ke barat ini dibagi dalam 4 komplek :

  1. Komplek Suci meliputi Pura Taman Beji, Bale Selonding, Bale Pepaosan, dll.
  2. Komplek tenang meliputi Perpustakaan Widya Kusuma.
  3. Komplek setengah ramai meliputi Gedung Pameran Mahudara, Gedung Kriya, Studio Patung, Wisma Seni dan Wantilan.
  4. Komplek ramai meliputi Panggung Terbuka Ardha Candra dan Panggung tertutup Ksirarnawa.

Denpasar (Denpasar City)

Denpasar sebagai pusat pemerintahan Bali, pusat bisnis di Bali merupakan ibukota dari Propinsi Bali. Jalan Gajamada merupakan yang dulunya merupakan pusat bisnis sampai saat ini dimana kantor-kantor Bank, restaurant dan pusat pemerintahan Kotamadya Denpasar terletak di jalan ini. Sebagai kota yang berkembang menjadi kota modern (metropolitan) Kota Denpasar memiliki prasarana dan sarana seperti pusat perbelanjaan dan restaurant yang terletak di Jalan Teuku Umar. Untuk tempat berbelanja bahan baku textile dan kerajinan cobalah berkunjung ke Pasar Badung dan Pasar Kumbasari yang letak dipisahkan oleh Tukad Badung. Untuk pusat perbelanjaan modern anda bisa ke jalan-jalan Ke Jalan Sudirman dan Jalan Diponegoro tempat lokasi dari Matahari, Rimo, Ramayana, Tiara Dewata dan Libi Department Store.


Kawasan Padanggalak (Padanggalak Area)

Kawasan yang merupakan kompleks pariwisatanya Kotamadya Denpasar ini memang lain dari yang lain. Di sana berbagai fasilitas rekreasi telah tersedia, termasuk kolam renang yang bertaraf international. Selain kolam renang yang megah yang siap dipakai sewaktu-waktu untuk event nasional maupun internasional, juga disediakan semacam panggung terbuka guna menampung berbagai atraksi kesenian yang ingin dipertunjukkan ke khalayak umum. Adapun pertunjukkan itu bermacam-macam dari yang klasik sampai ke yang modern, misalnya konser-konser musik maupun pagelaran akbar. Disamping panggung terbuka dan tertutup disediakan juga atraksi permainan sinar laser dengan dilatar belakangi layar air mancur untuk pertunjukan kesenian kesenian daerah. Atraksi dapat dapat disaksikan di Taman Festival Bali, Pdanggalak Jarak Kawasan Padang Galak ini relatif dekat dengan Kota Denpasar. Karena sarana transportasi sudah sangat baik maka hanya dengan 7 sampai 10 menit saja anda akan sampai ke tempat ini. Kawasan Padang Galak sangat disenangi bagi mereka yang ingin bersantai atau sekedar mandi berenang di kolam untuk mereka yang alergi dengan air laut. Disamping kolam renang juga disediakan kolam reftile (buaya). Selain restaurant yang berarsitektur daerah juga dapat dilihat pasar-pasar tradisional.


Lapangan Puputan

Lapangan Puputan Badung yang merupakan pusat keramaian di Denpasar. Puputan yang artinya habis-habisan dimana pada tahun 1906 ketika Belanda menyerbu Denpasar, rakyat Bali yang dipimpin oleh Raja Denpasar memilih untuk bertempur habis-habisan daripada menyerah terhadap Belanda. Kurang lebih 4,000 rakyat Bali termasuk Keluarga Raja Denpasar tewas dan sejak itu Belanda menguasai Bali. Untuk memperingati perang Puputan Badung maka didirikan Monumen Puputan Badung yang terletak di sebelah Utara lapangan. Monumen tersebut terdiri dari Raja, Ratu dan 2 orang putra raja. Lapangan ini tempat untuk rekreasi bagi masyarakat kota Denpasar.


Monumen Bajra Sandhi

Bajra Sandhi merupakan Monumen Perjuangan Rakyat Bali untuk memberi hormat pada para pahlawan serta merupakan lambang persemaian pelestarian jiwa perjuangan rakyat Bali dari generasi ke generasi dan dari zaman ke zaman yang dapat memberi inovasi dan inspirasi dalam mengisi dan menjaga keajegan negara Kesatuan RI. Lokasi monumen ini terletak di depan Kantor Gubernur Kepala Daerah Propinsi Bali yang juga di depan Gedung DPRD Propinsi Bali Niti Mandala Renon persisnya di Lapangan Puputan Renon.
Keseluruhan data daerah monumen berbentuk segi empat bujur sangkar dengan penerapan konsepsi Tri Mandala :

  1. Sebagai Utama Mandala adalah pelataran/gedung yang paling di tengah.
  2. Sebagai Madya Mandala adalah pelataran yang mengitari Utama Mandala.
  3. Sebagai Nista Mandala adalah pelataran yang paling luar yang mengitari Madya Mandala.

Bangunan gedung monumen pada Utama Mandala tersusun menjadi 3 lantai :

  • Utamaning Utama Mandala adalah lantai 3 yang berposisi paling atas berfungsi sebagai ruang ketenangan, tempat hening-hening menikmati suasana kejauhan di sekeliling monumen.
  • Madyaning Utama Mandala adalah lantai 2 berfungsi sebagai tempat diaroma yang berjumlah 33 unit. Lantai 2 (dua) ini sebagai tempat pajangan miniatur perjuangan rakyat Bali dari masa ke masa. Di bagian luar sekeliling ruangan ini terdapat serambi atau teras terbuka untuk menikmati suasana sekeliling.
  • Nistaning Utama Mandala adalah lantai dasar Gedung Monumen, yang terdapat ruang informasi, ruang keperpustakaan, ruang pameran, ruang pertemuan, ruang administrasi, gedung dan toilet. Ditengah-tengah ruangan terdapat telaga yang diberi nama sebagai Puser Tasik, delapan tiang agung dan juga tangga naik berbentuk tapak dara.

Pantai Sanur (Sanur Beach)

Pantai ini terletak di sebalah timur kota Denpasar dan sudah terkenal sejak dahulu kala, yaitu ketika perang Puputan Badung, pada tahun 1906. Di kalangan pariwisata, Pantai Sanur pertama kali diperkenalkan oleh pelukis Belgia A.J. Le Mayeur bersama istrinya Ni Polok yang menetap di sana sejak tahun 1937. Daya tarik Pantai Sanur adalah sebelah utaranya yang melingkar seperti setengah lingkaran dan bagian selatannya berbelok dari timur ke barat, serta ombaknya tak begitu besar. Fasilitas yang ada di Pantai Sanur, antara lain hotel bertaraf internasional, seperti Hotal Grand Bali Beach, Hotel Bali Hyatt, Hotel Sanur Beach, dan Hotel Natour Sindu Beach. Di samping itu, masih banyak lagi hotel di sepanjang timur dan tenggara Pantai Sanur. Kios barang kesenian dan art shop juga banyak di sana. Rumah makan dan Resturan yang menyediakan berbagai hidangan baik khas daerah maupun international terdapat disepanjang kawasan Sanur, juga tersedia fasilitas rekreasi air seperti diving, snorkling, canoeing, surfing, jet ski, parasailing dan lain-lain. Para pengunjung juga dapat menikmati keindahan sepanjang pantai. Bagi yang menyenangi olah raga jogging telah tersedia jalan setapak sepanjang kurang lebih 6 km di sepanjang pantai Mertasari sampai Padanggalak.

Tuesday, October 7, 2008

Funeral of the Century

The Most Elaborate Royal Funeral in Three Decades Was Staged in Bali, Indonesia

"Strange as it seems, it is in their cremation ceremonies that the Balinese have their greatest fun," ethnographer Miguel Covarrubias wrote in his book "Island of Bali," published in 1937.

And they certainly had a lot of fun Tuesday, in one of the biggest royal cremations on the island in recent years. Thousands gathered for the grand Hindu ceremony, unique to Bali, in which three members of the Ubud royal family were cremated along with 68 of their most prominent subjects.

Balinese men carry the coffin of a deceased member of the Ubud royal family during the cremation ceremony, Tuesday, July 15, 2008, in Ubud, Bali. Balinese royalty and dozens of other prominent Balinese from Ubud were cremated in a ceremony that took months of preparation.

Balinese priests, left, say prayers for a deceased member of the Ubud royal family.

Although this was a royal cremation ceremony, some commoners were also cremated on the same day but in a separate location. The bodies of the commoners had reportedly been set aside months ago, even years, in order to participate in this spectacular ceremony.

Balinese men carry a relative of a deceased member of the Ubud royal family down from a 91-foot ceremonial tower prior to the cremation ceremony.

The star of the ceremony was Agung Suyasa, head of Ubud's royal family. Suyasa died on March 28, after which his body was embalmed for more than three months. As the people of Ubud paid their respects, royal family members submitted daily offerings, including symbolic meals, to Suyasa before the final goodbye.

An effigy of the naga banda mythical dragon goes up in flames, inside of which are the sarcophogi of the most senior royals. The Balinese believe the cremation releases the souls from their bodies before being reincarnated.

In the final stage of the elaborate ceremony, the ashes of the deceased are scattered in the sea.

Ammu Kannampilly and Zoe Magee contributed to the reporting of this story.

source : abcnews.go.com

Badung in Bali Needs More Beach Safety Guards

TEMPO Interactive, Badung:
The Badung Regency Government on the island of Bali only has 100 safety guards, only 50 percent of the ideal amount.

Ideally, Badung Beach needs 200 safety guards.

“We plan to add 23 more people by the end of this year,” said Safety guard’s coordinator for the Badung Regency Made Suparka yesterday (6/10).

The beaches in Badung Regency stretch for some 75 kilometers and most beach areas are used as tourism sites.

It is recorded that 263 people have been carried away by the sea so far this year, and 13 of them have died.

ANANG ZAKARIA

Bali Eyes More Tourists by the End of The Year

TEMPO Interactive, Jakarta: Bali and East Java reported the rising number of foreign tourists in the regions since the beginning of this year.

Statictics Indonesia office in Bali province said by the end of August this year there were 1,29 milion of foreign tourists visited the island.

During Juli-August there are roughly 6,000 tourist came to Bali everyday, or equal to 180,000 tourists every month.

The statistics agency said the province could pass the 1,7 milion targetted by the government by the end of the year if Bali administration could keep the number. The tourism industry could also get a boost from several festivals and events until the end of the year like the Asian Beach Games and the Ubud Writers & Reader Festival.

Japan came at the top for the percentage of foreign tourist with 18,8 per cent, followed by Australia at 15,7 per cent, then France with 6,77 per cent, China with 6,16 per cent, and Malaysia with 6,02 per cent.

The statistic agency office in East Java also reported a steady rise on the number of tourist visiting the province since the beginning of 2008.

The agency recorded 18,171 foreign tourists visited the province in August, rose 29,74 per cent from the previous month. Foreign tourists in the province had been increasing since January from around 8,000 to 14,006 in July.

Rofiqi Hasan | Rohman Taufiq

Gianyar Bali Regency

Kabupaten Gianyar yang berbatasan dengan Denpasar, Bangli, dan Klungkung, sering ditempatkan sebagai wilayah yang menyimpan sumber inspirasi pengembangan seni budaya. Karawitan, tari, seni kriya, dan berbagai cabang seni lainnya diyakini berkembang dari wilayah Gianyar. Hal ini tak terlepas dari kedudukan wilayah Gianyar di masa lalu sebagai pusat pemerintahan kerajaan saat peralihan sebelum dan awal era Majapahit.
Kawasan Bedahulu dan Pejeng di utara Gianyar tercatat dalam sejarah sebagai pusat pemerintahan sebelum jaman Majapahit sedangkan Samplangan di timur Gianyar adalah pusat pemerintahan saat awal kekuasaan Majapahit merangkul Bali. Di masa-masa penjajahan Belanda dan jaman kemerdekaan, wilayah Ubud, Peliatan, Masa, dan sekitarnya kian kuat mengarah sebagai pusat pengembangan seni budaya. Dapat dipastikan, sepanjang jaman, Gianyar amat lekat bergelut dengan seni budaya.
Dengan luas wilayah meliputi 36.800 ha, dibandingkan dengan Denpasar sebagai kota dagang dengan kepadatan tinggi di pusat kota, kepadatan Gianyar justru mengarah ke daerah pinggir yang merupakan kawasan wisata terutama di daerah Kecamatan Ubud. Di sisi barat Gianyar, yang meliputi kawasan Sayan hingga ke Payangan, telah berkembang menjadi daerah hunian wisata berkelas butik hotel yang mengutamakan privasi sedangkan daerah pusat Ubud berkembang jenis pension dan homestay yang berbaur dengan penduduk asli. Daerah lain di Gianyar, yang bukan merupakan daerah hunian wisata, berkembang menjadi kawasan lain di Gianyar seolah saling dukung dan melengkapi dalam membentuk Gianyar sebagai kota budaya dan pariwisata.


Bungy Jumping Blangsinga

Dengan semakin meningkatnya kunjungan wisatawan yang datang ke Pulau Bali khususnya ke Kabupaten Gianyar, pelaku kepariwisataan harus mampu menyediakan dan mengembangkan bermacam–macam atraksi yang diperlukan untuk konsumsi para wisatawan, terutama wisatawan mancanegara.
Untuk mengantisipasi hal itu kini di Desa Blangsinga, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten daerah Tingkat II Gianyar, tepatnya di lembah Air Terjun Tegenungan, telah berdiri Bungge Jumping, yaitu tempat atraksi bagi wisatawan yang senang terjun dari ketinggian kurang lebih 50 meter. Tempat ini sangat tepat untuk atraksi karena alam sekitarnya masih asli dan areal terjunnya leluasa, sehingga kemungkinan bahaya yang timbul sangat kecil.


Desa Batubulan (Batubulan Village)

Tempat ini adalah sebuah desa dalam ruang lingkup Kecamatan Sukawati Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar Propinsi Daerah Tingkat I Bali. Desa Batubulan pada awalnya terkenal sebagai satu desa agraris yang kaya akan kesenian termasuk Seni Tari dan Seni Ukir. Struktur masyarakat dan kebudayaan agraris yang dijiwai oleh Agama Hindu menjadi dasar dari kehidupan masyarakat Desa Batubulan. Batubulan sangat terkenal sebagai 0byek Wisata Tari Barong yang khas. Desa ini terletak pada jalur Denpasar-Gianyar kira-kira 10 km dari Denpasar dan 21 km dari Gianyar. Setiap harinya para wisatawan mancanegara maupun Nusantara menyaksikan tarian barong di lima tempat pertunjukan. Disamping itu para wisatawan juga dapat melihat para pematung batu padas membuat patung-patung untuk dekorasi rumah hotel, perempatan jalan, jembatan maupun pura.


Desa Belega dan Bona (Belega and Bona Village)

Desa Belega termasuk Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar, sedangkan Banjar/Dusun Bona merupakan wilayah Desa Belega. Yang sangat menarik dari Desa Belega ini adalah, desa ini terkenal sebagai pusat kerajinan dari bambu, yang antara lain berupa : kursi, tempat tidur, meja hias, almari dan lain-lainnya.Sedangkan Desa Bona terkenal sebagai pusat kerajinan dari daun lontar dan tari kecaknya.
Hampir setiap hari Desa Belega dan Bona ini dikunjungi wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara yang ingin membeli atau memesan kerajinan bambu atau daun lontar untuk keperluan rumah tangga atau hotel/restaurant. Di samping itu Bona juga terkenal dengan tari kecaknya yang mengambil ceritera Ramayana. Setelah pertunjukan tari kecak, dipertunjukkan juga tari Sang Hyang Dedari yang ditarikan oleh 2 orang gadis kecil dalam keadaan tidak sadar (trance), dan terakhir dipertunjukkan Tari Sang Hyang Jaran, dimana seorang laki-laki menari sambil menendang bara api yang sangat besar dengan kaki telanjang.


Desa Mas (Mas Village)

Desa Mas sudah terkenal akan kesenian, kerajinan ukir-ukiran, patung dan lain-lainnya sejak jaman dahulu sampai sekarang. Letak Desa Mas sangat strategis, karena berada pada jalur pariwisata, oleh karena itu Desa Mas termasuk salah satu Obyek Wisata yang menarik di Daerah Gianyar bagian Barat.
Desa Mas ini sehari-hari banyak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara maupun Nusantara untuk melihat dan membeli hasil industri kerajinan masyarakat Desa Mas. Seorang Brahmana dari Majapahit, yang tidak betah lagi tinggal disana, datang ke Bali karena masih kuat ingin mempertahankan Agama Hindu yang didesak oleh Agama Islam. Beliau ini disebut Pedanda Sakti Bawu Rauh atau dengan nama lain Danghyang Nirarta atau Danghyang Dwijendra. Selama beliau di Desa Mas, beliau banyak memberikan pelajaran dan pengetahuan baik dibidang agama, sosial, seni budaya dan lain-lainnya kepada Mas Wilis.Setelah Mas Wilis mendalami semua pelajaran dan pengetahuan yang diberikan, lalu diadakan pendiksaan oleh Pedanda Sakti Bawu Rauh dan ia diberi gelar Pangeran Manik Mas. Sebagai bukti bakti untuk menghormati jasa-jasanya, Pangeran Manik Mas membuat pesraman atau Geria dengan segala perlengkapannya untuk Pendanda Sakti Bawu Rauh. Demikian pula Pedanda Sakti Bawu Rauh untuk memperingati kejadian ini, (sebagai bukti), beliau menancapkan tongkat tangi (pohon tangi) yang masih hidup sampai sekarang yang terletak di jaba tengah Pura Taman Pule Mas. Sejak saat itu beliau memberi nama desa ini Desa Mas. Disamping itu Pangeran Manik Mas mempersembahkan putrinya yang bernama Ayu Kayuan (Mas Gumitir), dari perkawinannya dengan Mas Gumitir menurunkan Brahmana Mas yang tinggal di Desa Mas sekarang ini.


Desa Peliatan (Peliatan Village)

Desa Peliatan sebagai obyek wisata di Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar banyak dikunjungi oleh para wisatawan Mancanegara maupun Nusantara untuk membeli hasil kerajinan rakyat maupun menonton pertunjukan keseniannya, disamping karena letaknya sangat dekat dengan Ubud. Desa Peliatan memiliki potensi yang cukup baik dalam bidang seni budaya dan gudangnya para seniman. Di desa ini tumbuh dan berkembang dengan suburnya berbagai kegiatan seni, baik seni tari, seni patung, seni ukir maupun seni lukis. Di Desa Peliatan hidup tokoh-tokoh seni.Tokoh-tokoh seni tabuh yang cukup banyak pengalaman dan terkenal di tingkat Nasional maupun International seperti : Anak Agung Gede Mandra, I Wayan Gandra, I Wayan Gerindem dan I Made Lebah, semuanya bergabung dalam sekeha Gong Gunung Sari Desa peliatan yang cukup punya andil untuk merangsang para wisatawan lebih bergairah datang ke Bali pada umumnya maupun ke Desa Peliatan pada khususnya.
Tidak jarang diantara mereka ikut merasakan seni dan ikut berperan sebagai penabuh. Mereka belajar menari dan menabuh dengan guru-guru. Di bidang seni lukis, ukir maupun patung, Desa Peliatan juga memiliki potensi yang cukup tinggi. Perkembangan seni lukis maupun seni patung sudah berkembang sejak masuknya Agama Hindu.


Desa Sebatu dan Pujung (Sebatu and Pujung Villages)

Desa Sebatu terletak di sebelah Utara Desa Tegallalang, Kecamatan Tegallalang, sedangkan Banjar atau Dusun Pujung termasuk wilayah Desa Sebatu. Dari desa Peliatan, arah Desa Sebatu adalah ke Utara, dan di lokasi itulah banyak sekali para pematung yang di sepanjang jalan ngobrol sambil tangan mereka sibuk mengukir kayu dengan pisau kecil. Dan di Desa Sebatu terletak di sebelah Utara Desa Tegallalang, Kecamatan Tegallalang, sedangkan Banjar atau Dusun Pujung termasuk wilayah Desa Sebatu. Dari desa Peliatan, arah Desa Sebatu adalah ke Utara, dan di lokasi itulah banyak sekali para pematung yang di sepanjang jalan ngobrol sambil tangan mereka sibuk mengukir kayu dengan pisau kecil. Dan di Desa Adat Sebatu ini terdapat sebuah Pura Gunung Kawi Sebatu.
Desa Sebatu dan Pujung banyak dikunjungi oleh para wisatawan Mancanegara maupun Nusantara dan tujuan mereka adalah untuk melihat serta membeli hasil-hasil kerajinan masyarakat yang berupa pohon pisang, buah-buahan, bunga-bungaan, patung antik, patung Garuda dan lain-lainnya yang terbuat dari kayu. Di wilayah Desa Sebatu banyak ditemui bukti-bukti kekunaan. Bukti-bukti tersebut diantaranya adalah Lingga di beberapa pura, upacara-upacara yang tidak memakai Pedanda, dan juga tidak adanya Padmasana pada pura-pura di lingkungan wilayah desa ini. Nama Sebatu sendiri telah dikaitkan dengan cerita yang termuat dalam lontar Usana Bali yaitu cerita Mayadenawa. Ketika terjadi peperangan antara Mayadenawa dan Betara Indra, pada saat Mayadenawa telah mengalami kekalahan ia menarik diri ke Utara. Mungkin karena kepayahan, sementara musuh tetap mengejar, terpelesetlah kakinya pada sebuah batu. Dalam bahasa Bali terpeleset berarti nyauh atau sauh. Karena terpeleset pada batu, kemudian tempat ini diberi nama Sauh Batu. Karena dengan berkembangnya masa kata Sauh Batu diubah menjadi Sebatu. Desa Sebatu dan Pujung banyak dikunjungi oleh para wisatawan Mancanegara maupun Nusantara dan tujuan mereka adalah untuk melihat serta membeli hasil-hasil kerajinan masyarakat yang berupa pohon pisang, buah-buahan, bunga-bungaan, patung antik, patung Garuda dan lain-lainnya yang terbuat dari kayu. Di wilayah Desa Sebatu banyak ditemui bukti-bukti kekunaan. Bukti-bukti tersebut diantaranya adalah Lingga di beberapa pura, upacara-upacara yang tidak memakai Pedanda, dan juga tidak adanya Padmasana pada pura-pura di lingkungan wilayah desa ini. Nama Sebatu sendiri telah dikaitkan dengan cerita yang termuat dalam lontar Usana Bali yaitu cerita Mayadenawa. Ketika terjadi peperangan antara Mayadenawa dan Betara Indra, pada saat Mayadenawa telah mengalami kekalahan ia menarik diri ke Utara. Mungkin karena kepayahan, sementara musuh tetap mengejar, terpelesetlah kakinya pada sebuah batu. Dalam bahasa Bali terpeleset berarti nyauh atau sauh. Karena terpeleset pada batu, kemudian tempat ini diberi nama Sauh Batu. Karena dengan berkembangnya masa kata Sauh Batu diubah menjadi Sebatu. Desa Sebatu terletak di sebelah Utara Desa Tegallalang, Kecamatan Tegallalang, sedangkan Banjar atau Dusun Pujung termasuk wilayah Desa Sebatu. Dari desa Peliatan, arah Desa Sebatu adalah ke Utara, dan di lokasi itulah banyak sekali para pematung yang di sepanjang jalan ngobrol sambil tangan mereka sibuk mengukir kayu dengan pisau kecil. Dan di Desa Adat Sebatu ini terdapat sebuah Pura Gunung Kawi Sebatu. Desa Sebatu dan Pujung banyak dikunjungi oleh para wisatawan Mancanegara maupun Nusantara dan tujuan mereka adalah untuk melihat serta membeli hasil-hasil kerajinan masyarakat yang berupa pohon pisang, buah-buahan, bunga-bungaan, patung antik, patung Garuda dan lain-lainnya yang terbuat dari kayu. Di wilayah Desa Sebatu banyak ditemui bukti-bukti kekunaan. Bukti-bukti tersebut diantaranya adalah Lingga di beberapa pura, upacara-upacara yang tidak memakai Pedanda, dan juga tidak adanya Padmasana pada pura-pura di lingkungan wilayah desa ini. Nama Sebatu sendiri telah dikaitkan dengan cerita yang termuat dalam lontar Usana Bali yaitu cerita Mayadenawa. Ketika terjadi peperangan antara Mayadenawa dan Betara Indra, pada saat Mayadenawa telah mengalami kekalahan ia menarik diri ke Utara. Mungkin karena kepayahan, sementara musuh tetap mengejar, terpelesetlah kakinya pada sebuah batu. Dalam bahasa Bali terpeleset berarti nyauh atau sauh. Karena terpeleset pada batu, kemudian tempat ini diberi nama Sauh Batu. Karena dengan berkembangnya masa kata Sauh Batu diubah menjadi Sebatu. Desa Sebatu terletak di sebelah Utara Desa Tegallalang, Kecamatan Tegallalang, sedangkan Banjar atau Dusun Pujung termasuk wilayah Desa Sebatu. Dari desa Peliatan, arah Desa Sebatu adalah ke Utara, dan di lokasi itulah banyak sekali para pematung yang di sepanjang jalan ngobrol sambil tangan mereka sibuk mengukir kayu dengan pisau kecil. Dan di Desa Adat Sebatu ini terdapat sebuah Pura Gunung Kawi Sebatu. Desa Sebatu dan Pujung banyak dikunjungi oleh para wisatawan Mancanegara maupun Nusantara dan tujuan mereka adalah untuk melihat serta membeli hasil-hasil kerajinan masyarakat yang berupa pohon pisang, buah-buahan, bunga-bungaan, patung antik, patung Garuda dan lain-lainnya yang terbuat dari kayu. Di wilayah Desa Sebatu banyak ditemui bukti-bukti kekunaan. Bukti-bukti tersebut diantaranya adalah Lingga di beberapa pura, upacara-upacara yang tidak memakai Pedanda, dan juga tidak adanya Padmasana pada pura-pura di lingkungan wilayah desa ini. Nama Sebatu sendiri telah dikaitkan dengan cerita yang termuat dalam lontar Usana Bali yaitu cerita Mayadenawa. Ketika terjadi peperangan antara Mayadenawa dan Betara Indra, pada saat Mayadenawa telah mengalami kekalahan ia menarik diri ke Utara. Mungkin karena kepayahan, sementara musuh tetap mengejar, terpelesetlah kakinya pada sebuah batu. Dalam bahasa Bali terpeleset berarti nyauh atau sauh. Karena terpeleset pada batu, kemudian tempat ini diberi nama Sauh Batu. Karena dengan berkembangnya masa kata Sauh Batu diubah menjadi Sebatu.


Desa Sidan (Sidan Village)

Obyek Wisata Alam Sidan terletak di Desa Sidan Kecamatan Gianyar Kabupaten Gianyar, tepatnya 4 Km, dari Kota Gianyar ke arah Kota Bangli dan 31 Km. Dari Kota Denpasar. Konon Desa Sidan (Kerajaan Sidan) berada di Dusun Pegesangan (kurang lebih 1 km. di sebelah Selatan Desa Sidan sekarang) dan karena sesuatu hal maka kerajaan tersebut dipindahkan (kekisidan) ke Utara, yang sampai saat ini dikenal dengan nama Desa Sidan. Secara alami Desa Sidan memang memiliki panorama yang sangat indah, karena berada di areal bebukitan yang lepas pandang. Disamping alamnya Desa Sidan juga memiliki beraneka ragam obyek wisata, baik yang berupa peninggalan purbakala maupun yang baru dibangun antara lain :

  1. PURA DALEM SIDAN
    Pura Dalem Sidan didirikan sekitar abad 17 oleh tetua dari Puri Sidan yaitu I Dewa Gede Pindi (almarhum), yang selanjutnya pada tahun 1948 direnovasi kembali oleh putranya yang bernama I Dewa Kompyang Pindi (almarhum). Pura Dalem Sidan tidak jauh berbeda dengan pura lainnya, tetapi pura ini mempunyai keunikan tersendiri, karena disamping kemegahannya, juga dihiasi dengan beraneka ragam relief dan ukiran yang khas dan sarat dengan filosofi Agama Hindu.
  2. PURA BUKIT CAMPLUNG
    Lebih kurang 100 Meter kearah Timur Laut dari Pura Dalem Sidan terdapat sebuah Pura yang bernama Pura Bukit Camplung, yang berdiri megah diatas tebing, dimana tebing –tebing tersebut penuh dengan tulisan – tulisan kuna, yang sampai saat ini belum diketahui asal muasal tulisan tersebut. Di tebing sebelah Utara terdapat selokan mata air kecil yang sangat dikeramatkan karena dipercaya masyarakat sekitarnya dapat menyembuhkan penyakit kulit. Konon di pura ini juga para Dewata menganugrahkan Gambelan Angklung Sidan yang sudah sangat terkenal sampai ke Manca Negara. Pura Bukit Camplung juga disebut Pura Masceti, karena masyarakat Pengemongnya adalah 9 subak (Organisasi Klasik Petani Bali) di Desa Sidan.
  3. STAGE BARONG SIDAN
    Disebelah Barat Pura Dalem Sidan tepatnya di areal teras persawahan yang sangat indah, telah dibangun stage pertunjukan untuk menyajikan kesenian – kesenian yang berasal dari Kabupaten Gianyar. Saat ini Wisatawan yang ingin menyaksikan Barong khas Stage Sidan (Pertunjukan Barong Taru Pramana) dapat memesan langsung ke Kantor Dinas Pariwisata Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar.

Demikian sebagian kecil penjelasan mengenai Alam Sidan, bila kita masuk ke obyek Wisata Alam Desa Sidan maka akan kita saksikan Sidan secara keseluruhan dan diyakini dapat menikmati keindahan Alam yang masih alami.


Gunung Kawi Tampaksiring

Setelah melewati Gapura dan 315 anak tangga di pinggir sungai Pakerisan yaitu sebuah sungai yang mempunyai nilai sejarah yang sangat tinggi, terletak komplek candi Gunung Kawi. Obyek wisata ini termasuk wilayah Tampaksiring 40 km dari Denpasar. Mengenai nama Gunung Kawi ini belum diketahui dengan pasti asal mulanya. Namun secara etimologi dikatakan berasal dari kata Gunung dan Kawi, yang berarti gunung adalah daerah pegunungan dan Kawi berarti pahatan. Jadi maksudnya ialah pahatan yang terdapat di pegunungan atau di padas karang. Menurut sejarahnya diantara raja – raja yang memerintah di Bali yang paling terkenal adalah Dinasti Warmadewa. Raja Udayana adalah merupakan dinasti ini dan beliau adalah anak dari Ratu Campa yang diangkat anak oleh Warmadewa. Setelah dewasa Udayana nikah dengan Putri Jawa yang bernama Gunapriya Dharma Patni. Dari perkawinannya ini menurunkan Erlangga dan Anak Wungsu. Akhirnya setelah Erlangga wafat tahun 1041, kerajaanya di Jawa Timur dibagi Dua. Pendeta Budha yang bernama Empu Baradah dikirim ke Bali agar pulau Bali diberikan kepada salah satu Putra Erlangga, tetapi ditolak oleh Empu Kuturan. Selanjutnya Bali diperintah oleh Raja Anak Wungsu antara tahun 1029 – 1077 dan dibawah perintahnya Bali merupakan daerah yang sangat subur dan tentram. Setelah beliau meninggal dunia abunya disimpan dalam satu candi di komplek Candi Gunung Kawi. Tulisannya yang terdapat diatas pintu semu yang berbunyi : Haji Lumah Ing Jalu yang berarti Sang Raja dimakamkan di Jalu sama dengan Susuh dari (ayam jantan) yang bentuknya sama dengan Kris maka perkataan Ing Jalu dapat ditafsirkan sebagai petunjuk Kali Kris atau Pakerisan. Raja yang dimakamkan di jalu dimaksud adalah Raja Udayana. Sedangkan tulisan Rwa Anakira yang berarti Dua Anaknya kemungkinan yang dimaksud makam Raja Udayana, Anak Wungsu dan Empat orang Permaisuri Raja serta Perdana Mentri Raja. Diseberang Tenggara atau dari komplek candi ini terletak Wihara (tempat tinggal atau asrama para biksu/pendeta Budha). Peninggalan candi dan wihara di Gunung Kawi ini diperkirakan pada abad 11 Masehi.


Lembu Putih dan Gajah Taro (White Cow and Elephant Taro)

Di Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar, kurang lebih 40 Km. Dari Kota Denpasar, ada sebuah hutan desa yang dihuni oleh sekelompok binatang sapi/lembu putih. Binatang ini sangat dikeramatkan dan disucikan oleh masyarakat sekitarnya maupun masyarakat Bali pada umumnya, karena binatang ini merupakan sarana pelengkap (saksi) upacara di Bali yaitu Ngasti (dan yang setingkat dengan upacara itu). Lembu Putih ini dibawa ke tempat upacara dan oleh penyelenggara upacara dituntun mengelilingi areal/tempat upacara mulai dari arah timur ke selatan dan seterusnya berkeliling sebanyak tiga kali, kemudian berakhir atau selesai di timur. Upacara ini disebut dengan Upacara Mepada (Maideran/Purwa Daksina). Setelah Upacara tersebut selesai Lembu Putih dikembalikan lagi ke hutan Desa Taro, tentunya sebelum dan sesudahnya telah disuguhi berbagai sesajian. Tetapi dengan keindahan alam pedesaan Taro yang sangat menarik, dewasa ini atas usaha seorang investor dan tentunya dengan persetujuan dari Pihak Pemerintah Daerah Tingkat II Gianyar, di sebelah areal hutan sapi/lembu putih Taro, juga telah dikembangkan sebuah atraksi wisata baru yaitu Trakking Gajah. Para wisatawan dapat menaiki gajah berkeliling hutan dengan melewati lorong / jalan setapak di sekitar Desa Taro. Bila diinginkan wisatawan dapat berenang (bermain di air) dengan gajah didalam kolam yang sudah tersedia.


Lingkungan Pura Penataran Sasih (Penataran Sasih Temple)

Pra Hindu. Lingkungan pura ini berlokasi di tengah-tengah Desa Pejeng di tepi jalan raya menuju Tampak Siring. Lingkungan Pura Penataran Sasih hingga saat ini telah banyak dikunjungi oleh para wisatawan mancanegara, baik untuk tujuan melihat-lihat maupun untuk penelitian.


Lingkungan Pura Pusering Jagat (Pusering Jagat Temple)

Lingkungan Pura ini dianggap sebagai Pusat Dunia, dimana di sini terdapat sejumlah arca-arca kuno seperti Arca Catuh Kaya dan lain-lainnya. Lingkungan pura ini terletak di Desa Pejeng, tepatnya di sebelah utara lingkungan Pura Kebo Edan. Dan Lingkungan Pura ini pun tak ketinggalan banyak dikunjungi oleh para wisatawan karena letaknya sangat strategis yaitu di komplek wisata purbakala yang lain. Bejana merupakan sebuah benda kekunaan terpenting di lingkungan ini, benda ini terbuat dari batu dengan relief yang menggambarkan para dewa mencari Tirta Amerta. Bejana ini memuat tahun Candra Sangkala 1251 Caka (1329 Masehi), yang menunjukkan masa kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Tahun 1952 arca yang retak telah diperbaiki, dan baru-baru ini bangunan pelindungnya telah dipugar kembali oleh suaka peninggalan sejarah dan purbakala Bali. Oleh Belanda ini disebut juga Sangku Sudamala. Kecuali itu di dalam lingkungan pura ini terdapat juga Gedong Purus, tempat tersimpannya sebuah Lingga dan sebuah Yoni yang dibuat sangat naturalistik. (Purus = Kemaluan laki-laki).


Objek Wisata Wenara Wana (Wenara Wana Object)

Diantara Desa Padang Tegal dan Nyuh Kuning, Kecamatan Ubud, Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar, tepatnya 26 km dari Kota Denpasar, terdapat sebuah hutan kecil yang dihuni oleh ratusan Kera Bali yang cukup jinak dan dapat diajak bermain – main disaat para wisatawan menikmati liburan di kawasan Wisata Ubud, Gianyar Bali.
Selain tempat hidupnya kera Bali, hutan tersebut juga merupakan Kuburan Desa, yang sudah barang tentu di sebelahnya berdiri sebuah pura. Jadi sangatlah lengkap bila para wisatawan mendatangi tempat ini, maksudnya selain bermain dengan kera, wisatawan juga dapat melihat kuburan Bali dan pura dengan arsitektur Balinya. Dan bila tepat waktu sesekali dapat menyaksikan lengkap dengan upacara di pura (odalan) maupun upacara pembakaran mayat (ngaben).


Pura Goa Gajah (Elephant Cave Temple)

Pura goa Gajah terletak di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar. Jaraknya dari Denpasar Kurang lebih 26 Km, sangat mudah dicapai. Disana ada kios-kios kesenian dan Rumah makan. Pura ini di lingkupi oleh persawahan dengan keindahan ngarai sungai Petanu, berada pada jalur wisata Denpasar – Tampaksiring – Danau Batur – Kintamani. Disekitarnya terdapat tempat-tempat bersejarah seperti Yeh Pulu, Samuan Tiga, Gedung Arca, Arjuna Metapa, Kebo Edan, Pusering Jagat, Penataran Sasih dan lain-lain. Namun Goa Gajah belum diketahui asal usulnya secara pasti. Nama ini perpaduan nama Pura Guwa (sebutan masyarakat setempat) dengan nama kuna yang termuat dalam prasasti-prasasti yakni Ergajah dan Lwa Gajah. Nama-nama Anta Kunjarapada dan Ratna Kunjarapada itu dari akhir abad kesepuluh sampai akhir abad ke Empat belas (Negara Kertagama). Kekunaan ini didukung oleh Peninggalan Purbakala. Di pelataran Pura Goa Gajah terdapat Petirtaan Kuna 12 x 23 M2, terbagi atas tiga bilik. Dibilik utara terdapat tiga buah Arca Pancuran dan di bilik Selatan ada Arca Pancuran pula, sedangkan di bilik tengah hanya terdapat apik arca. Lebih kurang 13 meter di sebelah utara Petirtaan terdapat Goa atau Ceruk Pertapaan berbentuk huruf T. Lorong Goa berukuran : lebar 2,75 M, tinggi 2,00 M. Dikiri kanan lorong terdapat ceruk-ceruk untuk bersemedi, jumlahnya 15 buah. Pada ceruk paling Timur terdapat Trilingga dan diujung Barat terdapat Arca Ganeca. Dihalaman Goa Pura Gajah diketemukan pula Fragmen bangunan yang belum bisa direkonstruksi. Tembok keliling menjadi penanggul tebing disebelah Barat pula ini. Lebih kurang 100M disebelah Selatan Petirtaan didapati sisa-sisa Percandian Tebing. Sebagian kaki candi itu masih ada bagian – bagian yang lain telah runtuh ke kaki yang ada didepannya. Sebuah Chatra berpayung 13 tergeletak ditepi kaki itu. Badan candi itu memakai hiasan yang sangat indah. Ada pula bagian Chatra bercabang tiga. Dua buah Arca Budha dengan sikap Dhynamudra diletakkan pada sebuah tahta berdekatan dengan ceruk yang hampir jebol. Berhadapan dengan percandian ini terdapat sebuah ceruk pertapaan pula. Didepan ceruk ini dibangun balai peristirahatan dan sebuah kolam.


Pura Kebo Edan (Kebo Edan Temple)

Di Lingkungan Pura Kebo Edan ini terdapat sebuah Arca Ciwa dalam bentuk Bhairawa menari, yang tingginya 360 cm. Bentuk Arca ini menari di atas mayat dengan hiasan ular, mukanya memakai kedok dan kemaluannya seperti bergoyang. Lingkungan Pura ini juga banyak dikunjungi wisatawan mancanegara maupun wisatawan Nusantara baik yang melakukan penelitian maupun yang hanya ingin melihat-lihat benda-benda peninggalan sejarah tersebut. Di tempat ini juga ditemukan kekunaan lain seperti Arca Raksasa dengan hiasan tengkorak serta beberapa buah arca lainnya bahkan ada yang sudah rusak.


Pura Mangening (Mangening Temple)

Di lingkungan pura ini terdapat Lingga-Yoni dan arca-arca kuno yang telah rusak, sehingga tidak dapat diketahui lagi dengan pasti. Disamping itu terdapat juga sisa-sisa bangunan kuno antara lain : bekas ambang pintu. Lingkungan Pura ini terletak tidak jauh di sebelah utara lingkungan Pura Gunung Kawi Tampak Siring, dan sebelah selatan jalan menuju ke lingkungan Pura Tirta Empul. Jarak dari kota Gianyar 15 km dan dari kota Denpasar 37 km. Tempat ini banyak juga dikunjungi oleh para wisatawan mancanegara melalui jalan setapak menuju lingkungan Pura Gunung Kawi ditepi sungai Pakerisan.
Berdasarkan hasil temuan bekas ambang pintu maka Suaka Sejarah dan Purbakala Bali mulai melakukan pengamatan di lapangan yang kemudian disusul dengan penggalian penyelamatan. Akhirnya usaha ini berhasil menemukan sisa-sisa sebuah bangunan kuno yang diduga berbentuk sebuah prasada, yang mungkin berasal dari jaman Anak Wungsu.


Pura Pagulingan

Di lingkungan Pura Pegulingan ini terdapat sisa-sisa bangunan berupa sebuah stupa besar yang kakinya berbentuk segi delapan. Lokasi Lingkungan Pura Pegulingan terletak di Desa Basang Ambu Desa Manukaya Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar, tidak jauh di sebelah timur lingkungan Pura Tirta Empul Tampiksiring, serta dekat dengan jalan jurusan Kintamani. Lokasi ini juga ditempuh dari kota Gianyar akan mencapai 10 Km dan bila dari kota Denpasar jaraknya kurang lebih 38 Km.
Pemandangan di Lingkungan ini sangat indah dan Istana Presiden Tampaksiring juga kelihatan indah, serta tempatnyapun sangat strategis sehingga banyak wisatawan yang mengunjungi tempat ini.Lingkungan pura ini baru diketemukan kembali pada tahun 1983 berkat bantuan dari pamong desa setempat. Pengamatan dan penggalian penyelamatan yang dilakukan oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Bali berhasil menemukan sisa-sisa bangunan berupa stupa besar yang kakinya berbentuk segi delapan. Temuan lainnya yang sangat penting ialah sejumlah materi tanah liat yang memuat mantra Agama Budha.


Pura Tirta Empul Tampaksiring (Tirta Empul Temple)

Tampaksiring adalah nama dan sebuah desa yang terletak 36 km dari Denpasar. Pura Tirta Empul sebagai peninggalan Kerajaan di Bali, salah satu dari beberapa peninggalan purbakala yang menarik untuk disaksikan dan diketahui di desa ini. Disebelah Barat Pura tersebut pada ketinggian adalah Istana Presiden yang dibangun pada pemerintahan Presiden Soekarno. Mengenai nama pura ini kemungkinan besar diambil dari nama mata air yang terdapat didalam pura ini yang bernama Tirta Empul seperti yang telah disebutkan diatas. Secara etimologi bahwa Tirta Empul artinya air yang menyembur keluar dari tanah. Maka Tirta Empul artinya adalah air suci yang menyembur keluar dari tanah.
Air Tirta Empul mengalir ke sungai Pakerisan. Sepanjang aliran sungai ini terdapat beberapa peninggalan purbakala. Pendirian pura ini diperkirakan pada tahun 960 A.D. pada jaman Raja Chandra Bhayasingha dari Dinasti Warmadewa. Seperti biasa pura – pura di Bali, pura ini dibagi atas Tiga bagian yang merupakan Jaba Pura (HaLaman Muka), Jaba Tengah (Halaman Tengah) dan Jeroan (Halaman Dalam). Pada Jaba Tengah terdapat 2 (dua) buah kolam persegi empat panjang dan kolam tersebut mempunyai 30 buah pancuran yang berderet dari Timur ke Barat menghadap ke Selatan. Masing – masing pancuran itu menurut tradisi mempunyai nama tersendiri diantaranya pancuran Pengelukatan, Pebersihan, Sudamala dan Pancuran Cetik (Racun). Pancuran Cetik dan nama Tirta Empul ada hubungannya dengan mitologi yaitu pertempuran Mayadenawa Raja Batu Anyar (Bedahulu) dengan Bhatara Indra. Dalam mitologi itu diceritakan bahwa Raja Mayadenawa bersikap sewenang – wenang dan tidak mengijinkan rakyat untuk melaksanakan upacara – upacara keagamaan untuk mohon keselamatan dari Tuhan Yang Maha Esa. Setelah perbuatan itu diketahui oleh Para Dewa, maka para dewa yang dikepalai oleh Bhatara Indra menyerang Mayadenawa. Akhirnya Mayadenawa dapat dikalahkan dan melarikan diri sampailah disebelah Utara Desa Tampak siring. Akibatnya kesaktiannya Mayadenawa menciptakan sebuah mata air Cetik (Racun) yang mengakibatkan banyaknya para laskar Bhatara Indra yang gugur akibat minum air tersebut. Melihat hal ini Bhatara Indra segera menancapkan tombaknya dan memancarkan air keluar dari tanah (Tirta Empul) dan air Suci ini dipakai memerciki para Dewa sehingga tidak beberapa lama bisa hidup lagi seperti sedia kala.


Rimba Reptil Singapadu (Singapadu Jungle Reptile)

Setelah berdirinya Taman Burung Citra Bali International, berselang beberapa saat kemudian di sebelah utara Taman Burung ini berdiri lagi sebuah tempat rekreasi untuk para wisatawan yaitu Rimba Reftil. Rimba Reftil ini memiliki/memelihara beraneka reftilia dari seluruh dunia. Bagi para wisatawan yang menyukai berlibur di dalam habitat reftilia sangatlah tepat bila mendatangi tempat ini. Disamping dapat menyaksikan reftilia secara total, keselamatan diri juga terjamin dari gigitan reftilia yang kita ketahui sebagian besar berbisa.


Taman Burung Citra Bali (Citra Bali Bird Park)

Seiring dengan keindahan panorama Bali semakin banyak investor asing yang ingin mengembangkan usahanya di Pulau Seribu Pura ini. Hal ini terbukti dengan berdirinya sebuah Taman Burung Cirta Bali International di Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar, lebih kurang 12 Km dari Kota Denpasar. Di tempat ini para wisatawan dapat melihat beragam jenis burung baik burung asli Pulau Bali, seluruh Indonesia maupun burung dari Mancanegara.

Friday, October 3, 2008

Jembrana Regency

Bila mendengar suara gamelan bambu yang mendengung berat dengan hentakan-hentakan yang amat lincah, itulah seni karawitan Jegog. Perangkat gamelan yang terbuat dari bambu ini menjadi ciri khas daerah Jembrana, salah satu kabupaten di Bali yang terletak di sisi barat Pulau Bali. Bila seni karawitan di daerah Bali lainnya memiliki kemiripan, Jegog sungguh memiliki nuansa yang amat lain, sehingga terdengar sangat khas di telinga.
Jembrana, dengan ibukotanya Negara, mewilayahi daerah seluas 841,8 km2 yang sebagian besar wilayahnya adalah daerah hutan. Hutan daerah negara dengan flora dan fauna tropis adalah daerah hijau Pulau Bali sehingga kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan lindung yang dikenal dengan Taman Nasional Bali Barat. Bertetangga dengan Jawa Timur, kondisi alam dan hutan di Bali barat lebih mirip dengan keadaan alam Banyuwangi di Jawa Timur. Suasana hutan jati dan kelapa di Jawa Timur seolah masih terasa di daerah Bali barat dan berangsur mengalih ke kesan alam Bali di daerah perbatasan antara Jembrana dan Tabanan. Tak hanya alam, sebagian penduduk Jembrana yang merupakan pendatang dari Jawa pun memberi suasana peralihan dari pola Jawa ke budaya Bali. Sebagian penduduk Jembrana di antaranya adalah pendatang dari Jawa yang memeluk agama Islam. Sangat mungkin kedekatan jarak antara Jembrana dan Jawa Timur dibandingkan dengan Tabanan mengakibatkan saling memberi pengaruh kuat antara dua daerah yang dipisahkan oleh Selat Bali itu.
Walau Jembrana menyiratkan ciri Jawa yang cukup kental bukan berarti Jembrana tidak memiliki catatan sejarah perjalanan Hindu. Rangkaian beberapa pura di pantai selatan Jembrana seperti misalnya, Pura Perancak, Pura Rambut Siwi, dan beberapa pura lainnya menunjukkan bukti bahwa Jembrana menyimpan catatan penting perjalanan Hindu dari Jawa ke Bali di awal masa-masa sejarah Bali.


Bunut Bolong

Bunut Bolong merupakan sebatang pohon bunut yang tumbuh tepat berada di atas jalan aspal. Bunut adalah sejenis tumbuhan yang beranting yang keberadaannya bisa menjadi cukup besar. Pohon Bunut yang satu ini mempunyai keunikan tersendiri, dimana pada tengah bunut itu terdapat lubang yang lebarnya selebar jalan aspal. Kendaraan bus besarpun bisa melintas dibawahnya. Bunut Bolong disamping sebagai tumbuhan yang alami, juga mempunyai nilai magis menurut keyakinan masyarakat sekelilingnya. Di bagian depan-selatan Bunut Bolong itu terdapat sebuah tempat suci berupa pura yang bernama Pujangga Sakti. Dengan bentuknya yang penuh lekukan-lekukan menambah daya tarik Bunut Bolong itu.Disamping keunikan Bunut Bolong itu sendiri, di sebelah baratnya juga terdapat hamparan hutan yang membentang dari selatan ke utara yang sangat mempesona untuk dinikmati. Karena bila kita berdiri di sekitar Bunut Bolong kita akan dapat menyaksikan perkebunan cengkeh yang juga memiliki keindahan tersendiri.
Bunut Bolong terletak di daerah pegunungan yang termasuk wilayah Desa Manggisari, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana. Untuk mencapai Bunut Bolong dari Kota Denpasar harus ditempuh jarak lebih kurang 86 km. Untuk menuju Bunut Bolong dapat dicapai dengan kendaraan roda empat maupun roda dua. Bunut Bolong sebagai tujuan Wisata masih sangat asli dan alami, sarana dan prasarana yang mendukungnya masih belum memadai. Tempat parkir, toilet umum, penginapan, restauran maupun kios-kios souvenir belum tersedia. Udara dan suasana yang sejuk serta nyaman di Bunut Bolong membuat setiap pengunjung betah untuk tinggal disana. Pengunjung yang datang adalah baik berupa wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara. Di Bunut Bolong pengunjung akan disapa dengan ramah oleh seorang petugas yang ditugaskan khusus mencatat data pengunjung.


Pantai Medewi (Medewi Beach)

Pemandangan alam yang indah dimana tampak saat-saat matahari akan terbenam (Sunset). Dari atas pantai yang telah disender pengunjung dapat duduk-duduk sambil menikmati deburan ombak yang tak pernah henti-hentinya. Untuk mendapatkan lokasi obyek pantai Medewi ini sangat mudah. Pantai Medewi terletak lebih kurang 100 m dari jalan raya Denpasar-Gilimanuk yang merupakan wilayah Desa Medewi, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana. Dalam perjalanan untuk menuju ke Pantai Medewi akan tampak sawah-sawah yang berjajar ditepian pantai, yang bila petani sedang memanen akan mempunyai keunikan tersendiri. Dengan perkembangannya yang cukup pesat disini telah terdapat hotel tempat menginap, restaurant tempat parkir serta kamar mandi termasuk kolam renangnya. Pantai Medewi seperti halnya pantai-pantai lainnya di Bali juga menjanjikan daya tarik bagi pengunjung.


Pura Perancak (Perancak Temple)

Lokasi Purancak kira-kira I0 km Barat Daya Desa Tegalcangkring, termasuk wilayah Kecamatan Negara Kabupaten Jembrana. Dari Kota Denpasar menempuh jarak 96 km mengikuti jalan raya jurusan Denpasar-Gilimanuk. Purancak adalah bagian dari Selatan Bali Barat. Pada ujung barat Desa Purancak terdapat sebuah pura yang bernama pura Purancak. Pura menghadap ke arah barat dengan panorama sungai Purancak yang panjang dan lebar merupakan daya tarik yang kuat. Air sungai sangat tenang seperti kolam, dan di seberang sungai tampak perladangan yang ditumbuhi pohon-pohon pantai yang berjajar.Kurang lebih 250 meter di sebelah selatan Pura Purancak terbentang lautan yang membiru, dan di kejauhan seberang lautan tampak gugusan pulau Jawa bagian timur. Sementara di sebelah kanan muara sungai kelihatan rumah-rumah tradisional yang menjorok ke laut disertai dengan deretan pohon-pohon kelapa melambai-lambai karena tiupan angin laut. Suasana yang demikian merupakan panorama yang indah dan menarik.


Pura Rambutsiwi (Rambutsiwi Temple)

Rambutsiwi sebagai obyek wisata merupakan lingkungan suatu pura yang bernama Pura Rambutsiwi, dikelilingi sawah yang membentang luas dan berteras-teras, dan di sebelah selatannya terdapat gundukan tebing dan batu karang yang curam. Dari gundukan tebing ini tampak Samudra Indonesia yang selalu dihiasi oleh deburan ombak. Di sebelah barat daya lingkungan pura terdapat balai tempat istirahat untuk menikmati keindahan panorama laut yang cukup mengasikkan. Tidak jauh dari balai tempat istirahat tadi, di sebelah selatan pura terdapat undak-undak yang curam untuk jalan turun ke pantai. Di pinggir pantai pada tebing batu karang ada dua buah goa yang dianggap suci dan keramat. Suasana di tempat ini tenang sekali dan baik untuk menenangkan pikiran.
Rambutsiwi terletak di pinggir pantai selatan Pulau Bali bagian barat yang termasuk wilayah Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo Kabupaten Jembrana. Di sebelah utara lingkungan Pura, lebih kurang 200 meter terbentang jalan raya jurusan Denpasar-Gilimanuk, terdapat penyawangan lingkungan Pura Rambutsiwi. Di sini biasanya umat Hindu yang melintasi jalur perjalanan tersebut berhenti sejenak untuk menghaturkan sembah mohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.Di sekitar lingkungan pura (terutama di sebelah timur dan barat) ada tempat-tempat istirahat untuk melepas lelah sementara sambil melihat-lihat keindahan alam disekitarnya. Disamping itu terdapat pula disana pameran lukisan maupun barang-barang souvenir lainnya yang dipajang setiap hari.
Rambutsiwi sering mendapat kunjungan para wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara. Waktu kunjungan yang paling baik adalah pada sore hari sebelum matahari terbenam. Umumnya wisatawan ramai berkunjung kesana pada hari-hari libur, hari raya dan hari piodalannya.


Taman Nasional Bali Barat (West Bali National Park)

Taman Nasional Bali Barat merupakan bentang alam (landscape) yang luasnya 77.162,5 Ha. Dewasa ini masih berstatus suaka margasatwa (kurang lebih 2.250 ha) dan perairan pantai yang berbatasan sepanjang 1 km dari garis pantai. Oleh karena itu Taman Nasional Bali Barat adalah merupakan suatu kawasan perlindungan dan pelestarian alam baik ditinjau dari segi margasatwa maupun tumbuhan, beserta dengan ekosistemnya. Margasatwa khas yang terdapat di kawasan ini adalah Jalak Putih Bali (Leuoeopsar rhotsehildi) dan Banteng (Bos Javanicus). Jenis tumbuhan khas yang tumbuh di kawasan ini seperti sawo kecik (manilkara kooki) dan lontar (Borrassus Flellifer) membentuk hutan murni. Jenis tumbuhan khas lain yang tumbuh adalah Dipterocarp. Keunggulan Taman Nasional di daerah Bali Barat ini akan dapat meningkatkan fungsi konservasi baik fauna, flora, maupun ekosistemnya dalam bidang pendidikan, penelitian, kebudayaan, rekreasi dan pariwisata.
Beberapa daerah di kawasan hutan ini merupakan obyek rekreasi terbatas, diantaranya daerah Teluk Terima, daerah Sumberrejo dan daerah Stasion Relay Micro Wave di Klatakan. Daerah Teluk Terima merupakan obyek rekreasi berupa teluk, hutan musim, makam Jayaprana, dan satwa (kera). Rekreasi laut yang dapat dikembangkan di daerah ini adalah bersampan, memancing dan menyelam untuk menyaksikan kehidupan di dasar laut. Di daerah Sumberrejo terdapat obyek rekreasi berupa hutan musim, hutan hujan, panorama indah berupa teluk (dari ketinggian kurang lebih 40 meter dari permukaan laut ), panorama laut dan perkotaan (Banyuwangi dan Gilimanuk). Obyek ini dapat dicapai dari Desa Sumberrejo, melalui jalan patroli sepanjang kurang lebih 4 km. Kita akan sampai di daerah yang berbukit yang ditanami rumput gajah. Dari atas menara pengintai kadang-kadang dapat dilihat satwa (rusa) sedang merumput di padang rerumputan buatan tersebut. Di daerah Stasion Relay Micro Wave Klatakan, terdapat obyek rekreasi berupa hutan musim, hutan hujan pegunungan, panorama indah lautan Indonesia (dari ketinggian kurang lebih 400 meter dari permukaan laut), perkampungan dan hutan . Kegiatan rekreasi yang dapat dikembangkan adalah berjalan kaki, memotret, pengamatan satwa dan beristirahat sambil menikmati udara yang sejuk dan panorama yang indah di lautan Indonesia.